Fenomena Pos Sos (Masyarakat Digital) dihubungkan dengan fenomena multitasking media.

Budaya digital yang terhubung langsung dengan internet termasuk penggunaannya di dalam masyarakat menjadi sebuah fenomena saat ini. Sekarang ini sulit sekali mencari masyarakat di perkotaan yang sama sekali tidak memegang handphone (gadget). Alat canggih ini sudah menjadi sebuah kebutuhan utama masyarakat. Bukan sekedar alat komunikasi semata, tapi berkembang jauh menjadi sebuah penanda status sosial dan gaya hidup. Hampir semua handphone keluaran terbaru menyediakan fasilitas browsing dan terkoneksi dengan internet, tentu saja dengan beragam sosial media yang ada di dalamnya. Perkembangan ini kemudian menjalar menjadi sebuah budaya baru di mana jumlah pengguna laptop dan smartphone menjadi bertambah secara signifikan. Ini juga yang menyebabkan berjamurnya café ber wifi, dengan hanya membeli secangkir kopi kita bisa internetan berjam-jam dengan bandwith terbatas.

Seiring berkembangnya teknologi dari waktu ke waktu, gaya hidup manusia berubah dengan fenomena pemanfaatan perangkat digital. Manusia yang menciptakan perangkat teknologi dan pada akhirnya perangkat teknologi itulah yang membentuk atau mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri. Perkembangan teknologi dan informasi merubah pola dan gaya hidup manusia, yang sebelumnya dilakukan secara manual tapi kini bisa dilakukan secara digital (online). Digital disini identik dengan berpikir cepat, namun kehilangan kedalaman. Jadi manusia tahu banyak hal tapi hanya tahu pada sisi permukaan semata. Salah satu faktornya adalah terlalu banyaknya (luas) informasi yang didapatkan dan yang terlihat online. Saat ini manusia memerlukan informasi agar dirinya tetap bisa bertahan hidup di tengah arus informasi dan dunia barunya sebagai basis sosial.

Internet sebagai ruang sosial dan budaya di dunia virtual. Budaya online merupakan kelanjutan dari budaya konsumen digital/virtual. Bentuk-bentuk variatif berkomunikasi semakin tidak bisa dihindarkan (e-mail, chatting, mailist, facebook, twitter, instagram dan seterusnya). Sehingga penggunaan internet sebagai ruang sosial dan budaya di atas virtual mengandalkan terbentuknya korelasi tentang fenomena konsumsi dan gaya hidup virtual. Ditambah Platform media saat ini dibuat dengan sangat mudah digunakan, menarik, lebih cepat, dan lebih umum.

Ada banyak perubahan pemuda modern yang sering disebut sebagai penduduk asli digital atau Homo Zappiens, sehubungan dengan kemampuan manusia untuk secara bersamaan memproses berbagai saluran informasi. Banyaknya informasi yang disediakan dan maraknya media sosial online membuat manusia otomatis melakukan aktivitas multitasking. Teknologi digital telah menjadi rutinitas sehari-hari banyak manusia sebagai multitasking telah menjadi “gaya hidup”. Padahal penggunaan media pada saat yang bersamaan bisa mengakibatkan depresi dan kecemasan yang berkaitan dengan suasana hati, antara kesehatan mental dan media multitasking itu sendiri.

Fakta yang menunjukkan bahwa melakukan dua aktivitas secara bersamaan (multitasking) bukanlah hal yang dianjurkan, karena tanpa disadari hal tersebut tidak akan menghasilkan pekerjaan dengan maksimal, produktivitas pekerjaan akan menurun dan beberapa persen waktu akan terbuang. Alasan yang paling sederhana mengapa multitasking mengganggu produktivitas adalah karena manusia pada dasarnya tidak dapat benar-benar fokus pada lebih dari satu tugas pada satu waktu, dimana penyebab utama turunnya produktivitas adalah tidak fokus.

Terlepas dari dampak positifnya, pemakaian media sosial berlebih akan berdampak negatif. Kasus yang paling ringan disini, berjamurnya media sosial baru saat ini membuat masyarakat digital merubah kebiasaannya, hamper setiap orang memiliki akun di masing-masing media sosial seperti yang paling populer saat ini: Facebook, Twitter, & Instagram. Saat ada platform baru, hamper dari masyarakat digital belomba-lomba membuat akun tersebut tanpa berpikir manfaatnya. Banyak ditemui remaja maupun dewasa yang sering kali terlihat di tempat umum. Mereka sangat fokus menggenggam gadgetnya masing-masing tanpa memperhatikan dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Ini lah salah satu yang menunjukkan budaya yang sedang terjadi di masyarakat digital saat ini. Mereka lebih aktif di dunia maya dibandingkan dengan di dunia nyata. Seperti yang sering orang bilang teknologi menyebabkan “Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat”.

Oleh : Intan Permata Sari, S.Ds., M.Ds.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *